Jumat, 13 November 2020

REVIEW SARASEHAN "KOMPETISI OLAHRAGA ANTAR NEGARA: REFLEKSI SPROTIVITAS DAN NASIONALISME"

Ganefo (Games of New Emerging Forces)

Presiden Pertama RI Soekarno pernah menggetarkan dunia lewat bidang olahraga saat mengambil posisi sebagai pemimpin dunia yang berani mengambil keputusan berseberangan. Pada tahun 1963, Soekarno menjadi pelopor pembentukan Ganefo sebagai ajang olahraga tandingan dari Olimpiade. Langkah itu diambil sebagai bentuk menjaga martabat bangsa.

Ganefo (Games of New Emerging Forces) punya sejarah panjang. Pada masanya, kehadiran Ganefo yang merupakan pesta olahraga negara-negara berkembang itu seolah menegaskan bahwa politik tidak bisa dipisahkan dengan olahraga. Hal ini tentu sebagai bentuk aksi menentang doktrin Komite Olimpiade Internasional (KOI) yang berusaha memisahkan antara politik dan olahraga.

Perlu diketahui bahwa keputusan Bung Karno dan Indonesia mendirikan GANEFO muncul setelah adanya kecaman KOI yang bermuatan politis pada Asian Games 1962, karena kala itu Indonesia tidak mengundang Israel dan Taiwan dengan alasan simpati terhadap Tiongkok dan negara-negara Arab. Lantas aksi ini diprotes KOI karena Israel dan Taiwan merupakan anggota resmi KOI.

Sampai akhirnya KOI menangguhkan keanggotaan Indonesia, dan Indonesia diskors untuk mengikuti Olimpiade Musim Panas 1964 di Tokyo. Ini pertama kalinya KOI menangguhkan keanggotaan suatu negara.

Ganefo dengan jargon Onward! No Retreat (Maju Terus! Pantang Mundur), berlangsung pada tanggal 10 sampai 22 November 1963. Kejuaraan olahraga ala negara-negara anti imperialis ini diikuti sekitar 2.700 atlet dari 51 negara di Asia, Afrika, Eropa (Timur), dan Amerika Latin.

Dibalik Asian Games 1962

Presiden RI Soekarno, punya cara tersendiri dalam mempersiapkan Indonesia sebagai tuan rumah yang baik. Pembangunan sarana olahraga dikebut dalam waktu satu tahun. Termasuk fasilitas penginapan para atlet. Semua kekuatan rakyat dikerahkan. Mereka bahu-membahu membangun infrastruktur. Tahun 1962, Asian Games ke 4 digelar di Jakarta, 24 Agustus-4 September 1962.

Sebanyak 17 negara berpartisipasi untuk memperebutkan medali pada 15 cabang olahraga yang dipertandingkan. Badminton adalah cabang olahraga yang pertama kalinya dipertandingan di ajang ini. Ada yang unik dibalik penyelenggaran Asian Games ketika itu. Pemerintah Indonesia mendapat tekanan dari negara-negara Arab dan Republik Rakyat Tiongkok. Akhirnya, pemerintah Indonesia menolak untuk mengeluarkan visa bagi delegasi Israel dan Taiwan. Tindakan tersebut menyalahi aturan Federasi Asian Games, karena sebelumnya Indonesia telah berjanji untuk mengundang semua anggota Federasi, termasuk mereka yang tidak memiliki hubungan diplomatik (Israel, Republik Tiongkok dan Korea Selatan).

Mengapa Indonesia menjadi tuan rumah? ceritanya panjang. Tanggal 23 Mei 1958, dilakukan pemungutan suara untuk tuan rumah Asian Games 1962 di Tokyo, Jepang sebelum Asian Games 1958. Dewan Federasi Asian Games memberikan dukungan terhadap ibukota Indonesia atas Karachi. Delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Ketua Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Sri Sultan Hamengkubuwono IX, dengan anggota Sri Paku Alam VIII, Maladi dan, dr A.Halim, berhasil memenangkan 22 dukungan suara negara-negara anggota AGF Jakarta sebagai tuan rumah Asian Games ke IV dengan menyingkirkan dukungan 20 suara yang memilih Karachi (waktu itu masih ibukota Pakistan). Atas dasar itulah Sukarno kemudian menerbitkan Keppres Nomor 239 yang membentuk Dewan Asian Games Indonesia yang bertanggung jawab menyukseskan hajatan besar Asian Games IV dengan membangun segala sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk kebelangsungannya.

Untuk menyelenggaran event internasional itu, berbagai persiapan dilakukan. Presiden RI Soekarno melibatkan seluruh pejabat pemerintah, baik itu sipil maupun militer dan warga Jakarta untuk bahu membahu mensukseskan acara itu. Untuk mempercepat pembangunan, pada tahun 1961 dibentuk Komando Urusan Asian Games (KUPAG). Kali ini komando ada di tangan Presiden Soekarno dengan komandan pelaksanaan Mayor Jenderal D Suprayogi. Pembangunan infrastruktur Asian Games besar-besaran meliputi Stadion Utama Gelora Bung Karno sebagai pencanangan pembangunan kompleks Asian Games ke-4. Kawasan kompleks olahraga Senayan berdiri di beberapa bekas kampung yaitu kampung Senayan, Petunduan, Kebun Kelapa dan Bendungan Hilir. Stadion yang mulai dibangun pada pertengahan tahun 1958 dan penyelesaian fase pertamanya pada kuartal ketiga 1962 ini merupakan salah satu yang terbesar di dunia.

Gedung olahraga ini dibangun mulai sejak pada tanggal 24 Agustus 1962 sebagai kelengkapan sarana dan prasarana dalam rangka Asian Games 1962 mulai buka diresmikan sejak pada tanggal 24 Agustus 1962 yang diadakan di Jakarta. Pembangunannya didanai dengan kredit lunak dari Uni Soviet.

Selain stadion sepakbola, pembangunan infrastruktur Asian Games dilanjutkan dengan proyek stadion renang, stadion tenis, sereta stadion madya (sebelumnya disebut Small Training Football Field stau STTF), semuanya selesai dibangun dalam waktu satu tahun.

Guna menunjang kebutuhan penyiaran Asian Games, pada tahun 1961 pemerintah Indonesia memutuskan untuk memasukkan pendirian stasiun televisi nasional sebagai bagian dari persiapan Asian Games 1962. Pada tanggal 25 Juli 1961, Menteri Penerangan Republik Indonesia, R Maladi, menandatangani perjanjian tentang pembentukan Panitia Persiapan Televisi (P2T). Pada bulan Oktober, Presiden Soekarno memerintahkan pembangunan sebuah studio di Senayan, Jakarta dan dua menara televisi. TVRI menyiarkan transmisi uji pertama, pada peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dari Istana Merdeka pada 17 Agustus 1962.

Pembangunan Kompleks Olahraga dan Stadion Senayan yang megah, pembangunan jalan baru termasuk Jalan MH Thamrin, Gatot Subroto dan Jembatan Semanggi, Hotel Indonesia hingga TVRI semua dapat diselesaikan tepat waktu. Selain itu dibangun pula Monumen Selamat Datang yang digagas Presiden Soekarno sebagai lambang keramahan bangsa Indonesia menyambut para peserta Asian Games.

Hasil pertandingan selama hampir sebulan itu berhasil menempatkan Indonesia sebagai runner up atau juara umum ke-2 setelah Jepang. Asian Games 1962 ini merupakan turning point kejayaan olahraga Indonesia di mata dunia. Hal ini sesuai dengan visi Presiden Soekarno yang ingin membuktikan pada dunia bahwa Indonesia yang baru merdeka pada saat itu bisa berprestasi di dunia olahraga.

Olimpiade 1956 Melbourne

Olimpiade Melbourne 1956 menjadi catatan sejarah bagi Timnas Indonesia. Di bawah asuhan Toni Pogacnik, Indonesia tampil dalam multiajang bergengsi dunia itu. Penampilan Indonesia di Olimpiade Melbourne 1956 mendatangkan banyak pujian, terutama setelah melawan Uni Soviet pada perempat final.

Uni Soviet adalah satu di antara tim terkuat pada masa itu. Pertandingan ini dilangsungkan di Melbourne, Australia, dalam babak perempat final Olimpiade musim panas ke-16. Uni Soviet diprediksi bakal menang mudah atas Indonesia. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Padahal, Indonesia kalah dari segi postur. Namun, keberanian meladeni lawan yang berpostur lebih besar jadi catatan yang dikenang hingga sekarang.

Melbourne terpilih sebagai kota tuan rumah untuk Olimpiade Musim Panas 1956 di Sidang Komite Olimpiade Internasional di Roma, Italia tahun 1949. Olimpiade ini menjadi yang pertama kalinya Olimpiade diadakan di Belahan Bumi Selatan dan Oceania, dan itu juga menandai kesempatan pertama bahwa Olimpiade dimainkan di luar Eropa dan Amerika Utara. Namun, menjelang Pertandingan, ada serangkaian boikot, masalah politik, dan kontroversi yang mengancam akan menaungi apa yang kemudian dikenal sebagai "Pertandingan Ramah".

Pada masalah politik, Perdana Menteri Victoria menolak untuk membagikan uang untuk pembangunan Desa Olimpiade, dan Perdana Menteri Sir Robert Menzies menolak untuk mengalokasikan dana federal. Kenyataannya, situasinya tampak begitu mengerikan sehingga Roma, yang sudah dipersiapkan untuk 1960 Games, sedang bersiap-siap sebagai tempat pengganti. Pada bulan April 1955, Presiden IOC Avery Brundage melakukan perjalanan ke Melbourne dan merasa tidak puas bahwa kota itu bisa menjadi tuan rumah Olimpiade dengan konstruksi yang tertinggal di belakang jadwal. Setelah pinjaman federal ke Victoria, kota ini akhirnya dapat menyelesaikan persiapan.

Sementara itu juga terdapat tiga peristiwa pemboikotan dalam Olimpiade Melbourne 1956; Belanda dan Spanyol menolak berpartisipasi karena keterlibatan Uni Soviet dalam Revolusi Hongaria, Kamboja, Mesir, Irak dan Lebanon memboikot Olimpiade Melbourne karena Krisis Suez, sedangkan Cina (Republik Rakyat Cina) juga ikut-ikutan memboikot karena keikutsertaan Taiwan (Republik Cina) dalam Olimpiade.

Pada Olimpiade München 1972 dan Olimpiade Montreal 1976, beberapa besar negara Afrika mengancam sebagai memboikot Olimpiade sebelum IOC melarang Afrika Selatan dan Rhodesia sebagai berpartisipasi karena rezim Apartheid mereka. Selandia Baru juga salah satu pendapat pemboikotan Afrika, sebab tim nasional rugbi mereka yang telah bertandang ke Afrika Selatan sebagai bertanding juga diperbolehkan ikut Olimpiade. IOC mengakui kasus yang pertama, namun menolak melarang Selandia Baru dengan pendapat bahwa rugbi bukanlah babak dari olahraga Olimpiade. Memenuhi ancaman mereka, dua puluh negara Afrika beserta Guyana dan Irak mengundurkan diri dari Olimpiade Montreal 1976 setelah beberapa atlet mereka berlaga dalam pertandingan. Taiwan juga memutuskan sebagai memboikot Olimpiade Montreal karena RRC mengintimidasi panitia sebagai melarang Taiwan bersaing menggunakan nama, bendera dan lagu kebangsaan Republik Cina. Taiwan tidak berpartisipasi lagi sampai Olimpiade Los Angeles 1984, di mana masa itu mereka berlaga di bawah nama Cina Taipei serta menggunakan bendera dan lagu kebangsaan yang baru.

Asian Games 1952 (Manila)

Diakui atau tidak, era 1950-an bakal dikenang sebagai salah satu periode termanis dalam sejarah sepakbola Indonesia. Alasan-alasan yang mendasari klaim tersebut antara lain: pertama, Tim Nasional Indonesia mampu menembus semifinal Asian Games 1954 di Manila walau akhirnya keok di laga perebutan medali perunggu melawan Myanmar. Kedua, Indonesia sukses menahan imbang salah satu kesebelasan top pada masa itu, Uni Soviet, dengan skor 0-0 di Olimpiade Melbourne 1956. Dan ketiga, Indonesia menggondol medali perunggu di Asian Games 1958 di Tokyo.

Publik menyebut pelatih berkebangsaan Yugoslavia, Antun "Toni" Pogacnik, sebagai sosok watak di balik lesatan sepakbola Indonesia pada era tersebut. Toni Pogacnik lahir di Livno (saat itu bagian dari Austria-Hungaria, saat ini bagian dari Bosnia-Herzegovina), 6 Januari 1913. Dia didatangkan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) pada rezim kepemimpinan Maladi.

Pogacnik berkontribusi masif atas perubahan yang terjadi dalam sepakbola Indonesia. Alih-alih datang layaknya bos dengan gaya "petantang-petenteng" seraya berteriak memberi instruksi kepada pemain-pemainnya dari pinggir lapangan, Pogacnik lebih suka turun langsung ke lapangan buat melatih dasar-dasar permainan sepakbola kepada anak asuhnya; mulai dari menendang, mengumpan, menyundul, mengontrol bola, sampai melakukan tekel. Antun Pogacnik sadar jika kemauan keras pemain-pemain Indonesia tak dibarengi dengan teknik olah bola mumpuni dan kecerdasan dalam bermain. Hal itulah yang coba dibenahi Pogacnik.

Di sisi lain, sejak 1950 Maulwi masuk tim nasional sepakbola Indonesia sebagai kiper, juga kapten di kesebelasan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI). Bersama Timnas, sebelum ke Olimpiade, Maulwi pernah membela Merah Putih di Asian Games I 1951 di New Delhi dan Asian Games III 1954 di Tokyo. Sebagai kapten dan kiper juga, Maulwi ikut serta dalam Tour Asia timnas PSSI ke Manila, Hongkong, dan Bangkok pada 1955. Pada 1956 ia terlibat lagi dalam tur ke Eropa Timur. Mereka bertandang dan bertanding di Rusia, Yugoslavia, Jerman Timur, dan Chekoslovakia.

Selain dikenal sebagai kiper legendaris timnas Indonesia, Maulwi Saelan juga pernah menjadi ajudan paling setia Presiden pertama Republik Indonesia, Sukarno. Maulwi bahkan disebut sebagai 'Penjaga Terakhir Soekarno'. Itu karena pria kelahiran Makassar tersebut menjadi orang terakhir yang mendampingi Sukarno melewati masa-masa kritis hingga wafat.

Maulwi adalah saksi betapa Sukarno menjadikan sepak bola dan olahraga sebagai salah satu alat diplomasi politik Indonesia di dunia internasional. Di era kepemimpinan Sukarno, tim nasional Indonesia kerap dikirimkan untuk menjalani tur di Eropa, atau laga persahabatan melawan tim kelas dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan berkomentar dengan bijak dan santun ya gengs. Penggunaan link aktif akan terhapus secara otomatis.