Sabtu, 12 Oktober 2019

Review Jurnal "Deklarasi Balfour: Awal Mula Konflik Israel Palestina"



Judul
Deklarasi Balfour: Awal Mula Konflik Israel Palestina
Jurnal
Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah
Volume, Nomor dan Halaman
Vol.1, No. 1, Hlm. 15-26
Tahun
2019
Penulis
1.    Emilia Palupi Nurjannah
2.    M. Fakhruddin
Asal Institusi Penulis
Universitas Negeri Jakarta
Sumber Jurnal
http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/periode/article/view/10479
Reviewer
M. Wafiq Saiful Rijal Abrori
NIM
180110301046
Asal Institusi Reviewer
Universitas Jember
Tanggal
11 Oktober 2019
Ringkasan Abstrak
Turki Utsmani sebagai penguasa Palestina kala itu harus menyerahkan wilayah kekuasaannya kepada Inggris akibat kekalahan perang. Pada tanggal 02 November 1917 diadakan Deklarasi Balfour yang dianggap menguntungkan bagi kaum Yahudi untuk dapat mendirikan National Home di Palestina. Deklarasi ini yang kemudian juga dianggap sebagai awal mula pemicu konflik yang terjadi antara Israel dengan Palestina yang menyita perhatian masyarakat dunia hingga saat ini.
Ringkasan Pendahuluan
Konflik yang terjadi antara Israel dan Palestina bukanlah konflik agama, melainkan konflik perebutan kekuasaan dimana Yahudi meyakini bahwa Palestina adalah wilayah yang dijanjikan. Dalam hal ini Yerusalam harus kembali menjadi ibukota bangsa Yahudi dan Palestina sebagai National Home yang bernama Israel. Dilaksanakannya Deklarasi Balfour di Inggris pasca kekalahan Turki Utsmani atas Inggris merupakan janji yang diberikan untuk Yahudi agar dapat mendirikan tanah air di Palestina.
Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui bagaimana Deklarasi Balfour terjadi sehingga Inggris menjanjikan sebuah tanah bagi kaum Yahudi, awal konflik Israel-Palestina terjadi serta upaya-upaya yang dilakukan untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina.
Metode
Menggunakan pendekatan dan analisis histori melalui studi kepustakaan dalam pengumpulan data yang terkait dengan topik pembahasan. Data yang diperoleh kemudian diklasifikasikan, diinterpretasikan, disusun dan dianalisis.
Ringkasan Hasil Pembahasan
Wilayah Palestina
Palestina pada Perang Dunia I merupakan bagian dari Dinasti Utsmaniyah atau Ottoman, Turki.  Dari segi geografis Palestina menjadi kawasan yang sangat strategis karena  merupakan penghubung tiga benua, yaitu Asia, Afrika dan Eropa. Oleh sebab itu Palestina mendapat perhatian dan diminati bangsa-bangsa lain. Selama kurang lebih 40 tahun Palestina didiami oleh orang-orang keturunan Philistine dan Kan’an serta telah bercampur dengan orang-orang keturunan Yunani, Romawi, Arab, Mongolia dan Turki. Agama yang dianut mereka sebagian besar adalah Islam dan Kristen. Sebagai wujud amanat dari pemimpin zionisme Theodore Herzl, kemudian banyak imigran Yahudi dari Jerman, Rusia, Bulgaria dan lain sebagainya berdatangan ke wilayah Palestina dan menetap di sana. Janji yang diberikan Inggris untuk dapat membentuk pemerintahan sendiri kepada bangsa tersebut akhirnya menimbulkan perselisihan atas klaim siapa yang berhak untuk berada di wilayah Palestina.
Deklarasi Balfour
Deklarasi  Balfour dilaksanakan tanggal 2 November 1917 di Inggris, diambil dari nama penulisnya yaitu Lord Balfour. Isi ringkasnya menyatakan bahwa pemerintahan Inggris secara positif menyetujui adanya pendirian tanah air di wilayah Palestina bagi orang-orang Yahudi dan Inggris akan berusaha untuk memudahkan tercapainya usaha tersebut. Deklarasi ini dilatarbelakangi oleh pemberian hadiah berupa wilayah dari David Lloyd George kepada seorang Yahudi Inggris  bernama Chaim Weizmann atas jasanya sebagai peracik formula senjata untuk  memenangkan perang. Weizmann kemudian memilih Palestina sebagai wilayah bagi umat Yahudi.
Pendudukan Inggris di Palestina
Kekuasaan Turki  Utsmani di Palestina diambil alih oleh Inggris karena Turki mengalami kekalahan melawan Inggris saat Perang Dunia I. Pihak LBB memberi hak kepada Inggris untuk mengelola wilayah Palestina sampai Palestina dapat berdiri sendiri. Hal ini menimbulkan masalah antara warga Palestina dengan kaum Yahudi, pasalnya kaum Yahudi dan Arab telah diberikan janji oleh Inggris untuk dapat menjalankan pemerintahan sendiri, sehingga timbul permasalahan dimana mereka saling mengklaim wilayah Palestina Tersebut.
Pembentukan  Negara Israel
Setelah Perang Dunia I kaum Yahudi mulai banyak berdatangan ke wilayah Palestina dan semakin meningkat setiap tahunnya. Adanya Deklarasi Balfour sebagai hadiah dari Inggris kepada Yahudi semakin membulatkan tekad kaum Yahudi untuk menguasai wilayah Palestina. Pada tahun 1948 banyak bangsa Arab Palestina ditelantarkan, diusir dan dibantai oleh kaum Yahudi. Puncaknya terjadi pada tanggal 14 Mei 1948 dimana Yahudi memproklamirkan diri menjadi sebuah negara bernama Israel. Pembentukan Israel ini juga mendapat bantuan dari beberapa pihak seperti Amerika Serikat.
Kelebihan
Cukup jelas dan rinci dalam memaparkan bagaimana Deklarasi Balfour menjadi awal mula munculnya konflik antara Israel dengan Palestina karena penggunaan bahasa yang ringkas dan lugas sehingga mudah dipahami.
Kekurangan
Kurang rinci dalam memaparkan bagaimana upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi konflik yang terjadi antara Israel dengan Palestina.

Download jurnal versi pdf: klik di sini

Senin, 16 September 2019

Masa Pemerintahan Presiden B.J. Habibie

Pict: https://id.m.wikipedia.org

AWAL DIANGKATNYA HABIBIE
SEBAGAI PRESIDEN RI

Habibie adalah seorang tokoh yang mencapai kekuasaan dengan tidak biasa. Pertama dan yang sangat mencolok tentu saja hal tersebut merupakan konsekuensi langsung dari mundurnya presiden Soeharto. Secara konstitusional, maka wakil presiden yang sedang menjabat saat itulah yang akan naik menggantikannya. Hal itu menjadi menarik karena situasi memang mengharuskan seorang B.J. Habibie naik ke puncak kekuasaan Republik Indonesia.  Namun tentu saja publik tidak akan meragukannya dalam kepemimpinan karena rekam jejak yang cukup menawan.  Habibie dikenal sebagai seorang teknokrat ulung hasil pendidikan Jerman yang mampu merangkai pesawat. Dia berdiri di barisan terdepan sebagai orang yang mengawali modernisasi di Indonesia.  Dialah salah satu putra bangsa yang mendapatkan kesempatan untuk memlih pendidikan diluar sistem kolonial, sebuah pendidikan teknologi tinggi.

Di Jerman, Habibie bukan hanya sekedar menyelesaikan pendidikannya, dia bahkan mampu menjadi lulusan terbaik disana.  Habibie menempuh pendidikan tinggi pada tahun 1955 dan mendapat gelar S1 hanya dalam lima tahun.  Dia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi untuk mendapatkan gelar doktoral-nya, yang juga dapat diselesaikannya dalam waktu lima tahun.  Lebih hebat lagi, dia mampu mendapatkan predikat summa-cum laude yaitu lulus dengan rata-rata nilai sempurna, sepuluh.  Teman seperjuangan Habibie yang juga menempuh pendidikan tinggi di Jerman menyebutnya sebagai “anak ajaib”.  Setelah lulus pun Habibie mampu menjadi orang penting di salah satu perusahaan pesawat terbang ternama di Jerman.  Begitulah bagaimana gemilangnya perjalanan pendidikan Habibie yang nantinya akan menjadi alat legitimasi baginya.

Diluar karir pendidikan tersebut Habibie juga tergabung dalam ICMI Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia.  Disana dia mendapatkan salah satu basis politik untuk mendukungnya, popularitas ICMI yang merupakan salah satu organisasi Islam yang direstui oleh pemerintahan orde baru mampu mendulang pengaruh dalam perjalanan politiknya.  Sekian banyak prestasi tersebut kemudian membuat publik menaruh harapan kepadanya, tuntutan reformasi yang menginginkan kembalinya demokrasi dan hak asasi manusia kemudian dipercayakan ke masa pemerintahannya.

Setelah menjabat sebagai presiden Republik Indonesia pun, Habibie lebih senang memposisikan dirinya sebagai penanggung jawab masa transisi kekuasaan.  Dia berjanji akan melaksanakan pemilu yang demokratis serta jaminan akan kebebasan pers.  Dia juga menjajikan berbagai aganda reformasi terkait perbaikan ekonomi untuk dilakukan secepat-cepatnya.  Masalah defliasi rupiah, krisis ekonomi yang menyelimuti Asia serta berbagai pemulihan kondisi ekonomi Indonesia.  Dengan situasi yang sedang kacau, Habibie memposisikan dirinya sebagai peletak awal reformasi, sebuah kondisi sosial-politik yang lebih demokratis.

KEBIJAKAN POLITIK DAN EKONOMI
PRESIDEN BJ. HABIBIE

Tanggal 22 Mei 1998 Habibie meningkatkan legitimasinya yaitu dengan mengumumkan susunan kabinet baru yaitu Kabinet Reformasi Pembangunan (berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 122 / M Tahun 1998) di Istana Merdeka. Dengan Keputusan Presiden tersebut, Presiden Habibie memberhentikan dengan hormat para Menteri Negara pada Kabinet Pembangunan VII. Kabinet Reformasi Pembangunan ini terdiri dari 36 Menteri yaitu 4 Menteri Negara dengan tugas sebagai Menteri Koordinator, 20 Menteri Negara yang memimpin Departemen, 12 Menteri Negara yang bertugas menangani bidang tertentu. Sebanyak 20 Menteri diantaranya adalah muka lama dari Kabinet Pembangunan VII, dan hanya 16 Menteri baru. Kabinet ini mencerminkan suatu sinergi dari semua unsur-unsur kekuatan bangsa yang terdiri dari berbagai unsur kekuatan sosial politik dalam masyarakat. Jabatan Gubernur Bank Indonesia tidak lagi dimasukkan di dalam susunan Kabinet,karena Bank Indonesia harus mempunyai kedudukan yang khusus dalam perekonomian, bebas dari pengaruh pemerintah dan pihak manapun berdasarkan Undang-Undang.

Pada tanggal 23 Mei 1998, Presiden Habibie melantik menteri-menteri Kabinet Reformasi Pembangunan. Presiden Habibie mengatakan bahwa Kabinet Reformasi Pembangunan disusun untuk melaksanakan tugas pokok reformasi total terhadap kehidupan politik, ekonomi, dan hukum. Berikut adalah beberapa kebijakan politik dan ekonomi tersebut:

Pada Bidang Politik
  1. Pembebasan Tahanan Politik. Tindakan pembebasan tahanan politik meningkatkan legitimasi Habibie baik di dalam maupun di luar negeri. Hal ini terlihat dengan diberikannya amnesti  dan  abolisi yang merupakan langkah penting menuju keterbukaan dan rekonsiliasi. Diantara yang dibebaskan tahanan politik kaum separatis dan tokoh-tokoh tua mantan PKI,  yang telah ditahan lebih dari 30 tahun. Amnesti diberikan kepada Mohammad Sanusi dan orang-orang lain yang ditahan setelah Insiden Tanjung Priok. Selain tokoh itu tokoh aktivis petisi 50 (kelompok yang sebagian besar terdiri dari mantan jendral yang menuduh Soeharto melanggar perinsip Pancasila dan Dwi Fungsi ABRI). Dr Sri Bintang Pamungkas, ketua Partai PUDI dan Dr Mochatar Pakpahan ketua Serikat Buruh Sejahtera Indonesia dan K. H Abdurrahman Wahid merupakan segelintir dari tokoh-tokoh yang dibebaskan Habibie. Selain itu Habibie mencabut Undang-Undang Subversi dan menyatakan mendukung budaya oposisi serta melakukan pendekatan kepada mereka yang selama ini menentang Orde Baru.
  2. Kebebasan Pers. Pemerintah memberikan kebebasan bagi pers di dalam pemberitaannya, sehingga semasa pemerintahan Habibie ini, banyak sekali bermunculan media massa. Kebebasan pers ini dilengkapi pula oleh kebebasan berasosiasi organisasi pers sehingga organisasi alternatif seperti AJI (Asosiasi Jurnalis Independen) dapat melakukan kegiatannya. Cara Habibie memberikan kebebasan pada Pers adalah dengan mencabut SIUPP. 
  3. Pembentukan parpol dan percepatan pemilu dari tahun 2003 ke tahun 1999. Perubahan dibidang politik diantaranya mengeluarkan UU No. 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik, UU No. 3 Tahun 1999 tentang Pemilu, UU No. 4 Tahun 1999 tentang MPR dan DPR. Setelah reformasi Pemilihan Umum dilaksanakan bahkan menjelang Pemilu 1999, Partai Politik yang terdaftar mencapai 141 dan setelah diverifikasi oleh Tim 11 Komisi Pemilihan Umum menjadi sebanyak 98 partai, namun yang memenuhi syarat mengikuti Pemilu hanya 48 Parpol. Pada tanggal 7 Juni 1999, diselenggarakan Pemilihan Umum Multipartai yang hasilnya disahkan pada tanggal 3 Agustus 1999. 
  4. Penyelesaian Masalah Timor Timur. Habibie mengambil sikap pro aktif dengan menawarkan dua pilihan yaitu memberikan status khusus dengan otonomi luas atau memisahkan diri dari RI. Otonomi luas  berarti diberikan kewenangan atas berbagai bidang seperti : politik ekonomi budaya dan lain-lain kecuali dalam hubungan luar negeri, pertahanan dan keamanan serta moneter dan fiskal. Sedangkan memisahkan diri berarti secara demokratis dan konstitusional serta secara terhorman dan damai lepas dari NKRI, Habibie membebaskan tahanan politik Timor-Timur, seperti Xanana Gusmao dan Ramos Horta. Pada tanggal 21 April 1999 di Dili, kelompok pro kemerdekaan dan pro intergrasi menandatangani kesepakatan damai yang disaksikan oleh Panglima TNI Wiranto, Wakil Ketua Komnas HAM  Djoko Soegianto dan Uskup Baucau Mgr. Basilio do Nascimento. Tanggal 5 Mei 1999 di New York Menlu Ali Alatas dan Menlu Portugal Jaime Gama disaksikan oleh Sekjen PBB Kofi Annan menandatangani kesepakan melaksanakan penentuan pendapat di Timor-Timur untuk mengetahui sikap rakyat Timor-Timur dalam memilih kedua opsi di atas. Tanggal 30 Agustus 1999 pelaksanaan penentuan pendapat di Timor-Timur, hasilnya diumumkan pada tanggal 4 September 1999 yang menyebutkan bahwa sekitar 78,5 % rakyat Timor-Timur memilih merdeka. Lepasnya Timor-Timur dari NKRI berdampak pada daerah lain yang juga ingin melepaskan diri dari NKRI seperti tuntutan dari GAM di Aceh dan OPM di Irian Jaya, selain itu Pemerintah RI harus menanggung gelombang pengungsi Timor-Timur yang pro Indonesia di daerah perbatasan yaitu di Atambua. 
  5. Pengusutan Kekayaan Soeharto dan Kroni-kroninya. Presiden Habibie dengan Instruksi Presiden No. 30 / 1998 tanggal 2 Desember 1998 telah mengintruksikan Jaksa Agung Baru, Andi Ghalib segera mengambil tindakan hukum memeriksa Mantan Presiden Soeharto yang diduga telah melakukan praktik KKN. Pada tanggal 11 Oktober 1999, pejabat Jaksa Agung Ismudjoko mengeluarkan SP3, yang menyatakan bahwa penyidikan terhadap Soeharto yang berkaitan dengan masalah dana yayasan dihentikan. Alasannya, Kejagung  tidak  menemukan cukup bukti untuk melanjutkan penyidikan, kecuali menemukan bukti-bukti baru. Sedangkan dengan kasus lainnya tidak ada kejelasan. Pemerintah dianggap gagal dalam melaksanakan Tap MPR No. XI / MPR / 1998 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, terutama mengenai pengusutan kekayaan Mantan Presiden Soeharto, keluarga dan kroni-kroninya. Aksi demontrasi saat Sidang Istimewa MPR tanggal 10-13 Nopember 1998 mengakibatkan bentrokan antara mahasiswa dengan aparat. Parahnya pada penutupan Sidang Istimewa MPR, Jumat (13/11/1998) malam. Penembakan membabi-buta berlangsung sejak pukul 15.45 WIB sampai tengah malam di kawasan Semanggi, yang jaraknya hanya satu kilometer dari tempat wakil rakyat bersidang dengan korban lima mahasiswa tewas dan 253 mahasiswa luka-luka disebut ”Semanggi Berdarah” atau ”Tragedi Semanggi”.
  6. Pemberian Gelar Pahlawan Reformasi bagi Korban Trisakti. Pemberian gelar Pahlawan Reformasi pada para mahasiswa korban Trisakti yang menuntut lengsernya Soeharto pada tanggal 12 Mei 1998 merupakan hal positif yang dianugrahkan oleh pemerintahan Habibie, dimana penghargaan ini mampu melegitimasi Habibie sebagai bentuk penghormatan kepada perjuangan dan pengorbanan mahasiswa sebagai pelopor gerakan Reformasi.
Pada Bidang Ekonomi
Di dalam pemulihan ekonomi, pemerintah berhasil menekan laju inflasi dan gejolak moneter dibanding saat awal terjadinya krisis. Namun langkah dalam kebijakan ekonomi belum sepenuhnya menggembirakan karena dianggap tidak mempunyai kebijakan yang kongkrit dan sistematis seperti sektor riil belum pulih. Banyak kasus penyelewengan dana negara dan bantuan luar negeri membuat Indonesia kehilangan momentum pemulihan ekonomi. Tanggal 21 Agustus 1998 pemerintah membekukan operasional Bank Umum Nasional, Bank Modern, dan Bank Dagang Nasional Indonesia. Awal tahun selanjutnya pemerintah melikuidasi 38 bank swasta, 7 bank diambil-alih pemerintah dan 9 bank mengikuti program rekapitulasi. Selain itu,harga beras tetap meningkat,  ditemukan penyelundupan beras keluar negeri dan penimbunan beras.

Pada tanggal 1-21 Oktober 1999, MPR mengadakan Sidang Umum yang dipimpin Ketua MPR Amien Rais, tanggal 14 Oktober 1999 Presiden Habibie menyampaikan pidato pertanggungjawabannya di depan sidang dan terjadi penolakan terhadap pertanggungjawaban presiden sebagai Mandataris MPR lewat Fraksi PDI-Perjuangan, Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Fraksi Kesatuan Kebangsaan Indonesia dan Fraksi Demokrasi Kasih Bangsa. Di luar Gedung DPR/MPR yang sedang bersidang, mahasiswa dan rakyat yang anti Habibie bentrok dengan aparat keamanan. Mereka menolak pertanggungjawaban Habibie, karena Habibie dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Rezim Orba.


Pada tanggal 20 Oktober 1999, Ketua MPR Amien Rais menutup Rapat Paripurna dan Presiden Habibie mengundurkan diri dari pencalonan presiden. Pengunduran Habibie dalam bursa calon presiden, memunculkan dua calon kuat sebagai presiden, yaitu Megawati dan Abdurrahman Wahid. Gus Dur terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia keempat dan dilantik dengan Ketetapan MPR No. VII/MPR/1999 untuk masa bakti 1999-2004. Tanggal 21 Oktober 1999 Megawati terpilih menjadi Wakil Presiden RI dengan Ketetapan MPR No. VIII/MPR/1999 mendampingi Presiden Abdurrahman Wahid. Terpilihnya Abdurrahman Wahid dan Megawati sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 1999-2004 menjadi akhir pemerintahan Presiden Habibie dengan TAP MPR No. III/MPR/1999 tentang Pertanggungjawaban Presiden RI, B.J. Habibie.

AKHIR KEDUDUKAN BJ. HABIBIE
SEBAGAI PRESIDEN RI

Terdapat beberapa kritikan yang ditujukan pada pemerintahan BJ. Habibie sesudah menggantikan Soeharto tanggal 21 mei 1998, yang dinilai lemah. Kelemahan yang mendasar adalah tiadanya jiwa kepemimpinan. Hal ini tercermin dengan adanya sikap dari pemerintah yang tetap mempertahankan pola orde baru. Misalnya dalam penanganan berbagai kasus seperti kasus KKN mantan persiden Soeharto, kasus suap bank bali, yang melibatkan pejabat pemerintah, otoritas moneter dan pihak suasta, masalah timor timor, dan bentrok berdarah antara aparat keamanan dan mahasiswa yang menentang RUU penangulangan Keadaan bahaya PKB dan lain sebagainya. Hal ini mendapat sorotan negatif dari internasional terhadap pemerintahan Habibie sehingga muncul kesan pemerintahan Habibi tidak berhasil mengembalikan fundamental perekonomian nasional dan ekonomi nasional yang lebih baik dan melakukan invasi dalam mengembangkan masyarakat. Hal ini menyebabkan Habibi dipandang hanya memikirikan kepentingan kelompoknya untuk mempertahankan kekuasaanya.  Oleh sebab itu, Basarnas yang dimonitori Letjen (Purn) Kemal Idris, Prof Dr. Sri Edi Swasono dan kawan-kawan mengirm surat kepada Bj Habibie yang menyebutkan Basarnas mengerti bahwa Habibie mewarisi keburukan yang telah dirintis oleh guru besarnya yaitu Soeharto.

Bedasarkan penilaian itu, Basarnas berkesimpulan bahwa Habibie tidak pantas memimpin Indonesia kedepannya. Melalui ketuanya Letjen. Purn. Kemal Idris berharap Persiden Habibie berbesar hati dan menerima keyataan untuk tidak bersedia dicalonkan kembali oleh partai golkar sebagai presiden RI pada sidang unum MPR 1999. Sementara Letjen. Purn. Bambang Triantoro merasa tidak yakin Presiden Habibi mampu memimpin bangsa lebih lanjut karena banyak persoalan yang tidak dapat diselesaikannya dengan tuntas dan menyenangkan hati rakyat.

Dari semua itu menunjukkan lemahnya kepemimpinan BJ Habibi terutama dalam mengadili kasus KKN Soeharto beserta kroninnya. Tidak ada satu pelaku KKN yang diadili dan dijebloskan kepenjara. Dalam amanat TAp MPR No.XI/MPR/1998 yang harus dipertanggungjawabkan oleh Habibi dalam Sidang Umum MPR Tahun 1999, dijelaskan tentang upaya pemberantasan KKN terhadap mantan presiden Soeharto beserta keluarga dan kroninya. Dengan demikian, tanggung jawab BJ Habibie dalam menyelesaikan kasus KKN Soeharto tidak boleh main-main atau diselesaikan setengah setengah. Sesuai mandat MPR, Habibie harus mengambil tindakan dalam kasus tersebut. Jika mandat tersebut dilaksanakan secara konkret, maka rakyat otomatis akan meminta pertangungjawaban. Hal ini merupakan kelemahan Habibie yang terlanjur dirinya mengaku sebagai murud dari Soeharto. Akibatnya, pamor Habibie pudar, kredibilitasnya menurun, dan tidak dipercaya lagi oleh rakyat untuk memimpin Indonesia kedepannya. Selain itu bocornya aib pembicaraan telepon antara Presiden Habibie dengan Jasa Agung M. Ghalib tentang penanganan kasus KKN Soeharto yang tidak serius serta sekandal Bank Bali yang mendapat sorotan luas baik dalam maupun dunia internasional, jika kasus Bank Bali tidak diselesaikan secara tuntas, maka IMF dan Bank dunia mengancam tidak akan mengucurkan dana pinjaman kepada pemerintahan Habibie.

Kelemahan lain pemerintahan Habibie adalah tidak mampunya menciptakan rasa aman bagi masyarakat misal du Pontianak, Aceh, Ambon, dan Timor Timor yang kasusnya tidak dapat diselesaikan secara tuntas. Dalam mengungkap provokator dan aktor intelektual dari kasus kasus tersebut tidak pernah dilakukan secara transparan. Juga tentang kasus Timtim pascajajak pendapat 1999 karena kecerobohan pemerintahan Habibie akhirnya " terlepas lepas dari bumi pertiwi Indonesia." Hal ini berakibat pada rakyat yang merasa marah dan banyak korban dalam kerusuhan tersebut.

Penanganan krisis yang tidak tuntas dan sering kali bertentangan dengan para menterinya menyebabkan citra Habibie merosot. Sekedar contoh, perbedaan antara Presiden Habibie dengan Jendral TNI Wiranto, tentang pemusatan pasukan di sekitar kediaman Persiden Habibie yang sampai sekarang masih kontroversial. Atau soal pemekaran wilayah Irian Jaya (Papua) dan Maluku antara Habibie dan mendagri Saryawan Hamid yang sangat tajam. Habibie menghendaki sebelum pemilu sedangkan Saryawan Hamid ingin setelah pemilu. Karena lemahnya pemerintahan Habibie, tidak ada alasan untuk kembali memilih Habibie kembali menjadi Presiden dalam SU-MPR 1999. Kalau tetap dipilih kembali, itu merupakan pilihan yang bodoh karena akan muncul gejolak yang akan mengancam kesatuan dan persatuan bangsa. Selain itu, Habibie tidak memiliki nilai jual baik domestik maupun internasianal. Akibatnya penataan atas kehidupan negara-bangsa termasuk Law Enforcement tetap buruk. Meski diluar itu, ada juga prestasi membangakan dari pemerintahan Habibie, yaitu tentang kebebasan pers yang dapat dinikmati kalangan pers sampai sekarang.

Namun secara keseluruhan, banyak liputan surat kabar dan penilaian pengamat poitik yang menunjukkan jika pemerintahan BJ. Habibie memiliki kredibilitas yang rendah dan lemah, kurang memiliki sense of priority, sense of security, and sense of  crisis (analisis CSIS, No. 3, Tahun 1999: 203). Akibatnya tidak ada satu masalah yang dapat diselesaikan dengan tuntas pada masa pemerintahan Habibie. Karena itu banyak kelompok masyarakat terutama LSM-LSM, elemen mahasiswa dan barisan nasional meninta agar Habibie segera mengundurkan diri. Dalam Sidang Umum MPR 1999, Pertanggungjawaban Presiden Habibie ditolak oleh mayoritas anggota MPR dan pada waktu itu Gus Dur terpilih sebagai Presiden RI  yang selanjutnya.

-----------------------------------------------

Catatan:
Diambil dari tugas makalah Pengantar Sejarah Indonesia. Prodi Ilmu Sejarah. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Jember.
Penyusun:
-M. Wafiq Saiful Rijal A.
-Moch. Khoirurizqi Awalul M
-Puma Anggara

Dipublikasikan guna mengenang jasa-jasa dari salah satu tokoh terbaik bangsa, Bacharuddin Jusuf Habibie, presiden ke-3 RI.
B.J. Habibie meninggal dunia pada tanggal 11 September 2019. Penulis mengucapkan turut berbela sungkawa dan terima kasih atas segala kontribusinya dalam membangun dan mengharumkan nama Indonesia. Semoga segala ibadah dan amal kebaikannya diridhoi oleh Allah SWT. Aamiin.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Fachry. 2013. Esai Politik Tentang Habibie: Dari Teknokrasi ke Demokrasi. Jakarta: Mizan.

Puspoyo, Widjanarko. 2012. Dari Soekarno Hingga Yudhoyono: Pemilu Indonesia 1995-2009. Solo: PT. Era Adicitra Intermedia.

Remah Ilalang. 2017. “Kebijakan Ekonomi dan Politik pada Masa Pemerintahan Presiden B. J. Habibie”. https://remahilalangindonesia.wordpress.com/2018/01/31/kebijakan-ekonomi-dan-politik-pada-masa-pemerintahan-presiden-b-j-habibie/ (Diakses pada: 09 November 2018).

Minggu, 15 September 2019

Eropa Tidak Cocok Disebut Sebagai Benua

Halo gengs.
Salam Ilmu Sejarah.
Pernah jalan-jalan ke Eropa nggak? Pernah min, dalem mimpi. Duhh kasian, buat yang belum mudah-mudahan bisa cepat-cepat ke sana deh. Btw, aku juga belum pernah kok, hehe :v.
Kali ini kita akan membahas Eropa. Siapa sih yang ga kenal dengan benua yang menonjol dalam hal kepeloporan, peran dan posisinya pada zaman modern ini. Tapi gengs, sebenarnya Eropa itu tidak pantas disebut sebagai benua. Lahh, kenapa min? Oke, kuy langsung saja kita bahas. Tapi sebelum itu kita cari tahu dulu di pasar. Ehh, maksudnya kita cari tahu dulu sejarahnya, dari mana sih asal-usul nama Benua Eropa :).

Asal Nama Benua Eropa
Pemberian nama Eropa masih ada kaitannya dengan Benua Asia. Maka dari itu, sebelum menginjak pada asal nama Eropa, kita juga harus tahu terlebih dahulu asal nama Asia. Nama Asia berasal dari kata "Acu", yang artinya adalah "cahaya" atau "tempat timbulnya matahari". Kemungkinan nama ini diberikan oleh salah satu dari dua bangsa yang menetap di Asia Kecil, yaitu bangsa Hitti atau mungkin bangsa Assyiria. Kemudian kata "Acu" tersebut diambil oleh bangsa Yunani dan bangsa Romawi menjadi kata "Asia". Kemudian, daerah yang berada di sebelah barat bangsa Assyiria disebut "Ereb", yang artinya "gelap", "magrib" atau "tempat terbenamnya matahari". Akhirnya, kata "Ereb" diubah oleh bangsa Yunani menjadi "Europe" atau "Eropa" seperti sebutan yang umum digunakan saat ini (Romein, 1953:12-13).

Sebenarnya Eropa bukan merupakan benua yang besar, hanya berbeda tipis dengan luas benua Australia. Luas Eropa adalah 9,97 juta km², sedangkan Australia luasnya 8,9 juta km² (Romein. 1953:10).

Eropa Tidak Cocok Disebut Sebagai Benua
Sebuah wilayah dapat disebut sebagai benua jika terdiri dari daratan yang sangat luas dan semua sisinya dibatasi secara sempurna oleh laut serta mempunyai iklim, musim, dan keadaan alam yang spesifik. Dalam hal ini, sebenarnya Eropa tidak termasuk dalam kategori wilayah yang bisa disebut sebagai benua, karena batas geografis Eropa yang berupa lautan hanya berada di sisi sebelah selatan, barat dan utara saja. Di sebelah selatan Eropa dibatasi oleh Laut Tengah, Laut Hitam dan Pegunungan Kaukasus. Sebelah barat dibatasi oleh Samudra Atlantik dan di sebelah utara dibatasi oleh Laut Arctic. Di sebelah timur memang terdapat batas laut, namun ada sebagian dari wilayah Eropa yang tidak terpisah dari Asia bahkan tergabung dengan Asia. Oleh sebab itu, Eropa sebenarnya lebih pantas disebut sebagai Jazirah (anak benua), Semenanjung atau perluasan ke arah barat Benua Asia. Berikut adalah peta yang mungkin bisa lebih memperjelas pemahaman kalian tentang bagaimana letak geografis dari Eropa.

Pitc: https://www.pelajaran.co.id


Nah, gimana gengs? Mau tetap menyebut Eropa sebagai benua atau sebagai jazirah saja? Hehe, itu kembali pada kehendak kalian sendiri kok gengs. Faktanya memang banyak dari kita yang terbiasa menyebut Eropa sebagi benua, tapi yang terpenting sekarang kalian sudah paham bagaimana yang sebenarnya :).

Oke, mungkin cukup di sini dulu pembahasan kita mengenai Eropa. Blog ini telah berusaha disusun dengan sebaik mungkin, tapi apabila masih terdapat salah kata ataupun salah dalam menyampaikan materi, penulis meminta maaf dan akan selalu terbuka untuk menerima kritikan yang membangun dari kalian gengs :).

Oiya, untuk kalian yang hobi membaca atau sedang mencari buku referensi untuk tugas dan lain-lain, yuk kunjungi koleksi E-Book yang juga sudah aku posting di blog ini. Yang pasti buku-bukunya berbobot dan bisa langsung kalian DOWNLOAD secara GRATIS gengs, hehe. Langsung saja klik di sini.

Untuk saran atau tanya-tanya silahkan komentar di bawah atau hubungi e-mail yang sudah aku sediakan di profil.
Terima kasih gengs.
Salam Ilmu Sejarah…

-Sumber: Winarni. 2013. Sejarah Barat I: Dari Zaman Klasik sampai Abad Pertengahan. Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta.

Sabtu, 07 September 2019

Koleksi E-Book Gratis


Hey gengs.
Salam Ilmu Sejarah.
Tidak usah terlalu banyak ngomong dulu ya. Langsung saja nih aku sudah sediakan koleksi e-book buat kalian (format pdf). Yang pasti buku-bukunya berbobot dan banyak dipakai sebagai sumber referensi gengs, hehe. Bisa langsung DOWNLOAD SEKALI KLIK, GRATIS tis tiss. Kata siapa min? Kan pake kuota? Iya deh, terserah :v. Btw, koleksi buku-buku ini akan terus aku UPDATE secara berkala gengs, jadi jika kalian belum menemukan buku yang kalian cari jangan khawatir dulu. Silahkan kunjungi kembali blog ini kapanpun kalian butuh, mungkin buku yang kalian cari sudah bisa ditemukan. Atau kalian juga bisa langsung menanyakan buku yang kalian butuhkan ke aku via komentar atau e-mail yang sudah aku sediakan di profil. Aku tidak bisa menjamin semua kebutuhan buku kalian akan terpenuhi, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk mencarikannya buat kalian gengs, oke? :) Cuss..
  1. Babad Tanah Jawi -versi J.J. Meinsma, 1874
  2. Sejarah Dunia yang Disembunyikan -Jonathan Black (diterjemahkan oleh Isma B Soekato dan Adi Toha.
  3. Kebudayaan Aceh dalam Sejarah -A Hasjmy
  4. Sejarah Modern Indonesia -Pramoedya Ananta
  5. Menyingkap Tabir Sejarah Awal Mojowarno -Abdul Rasjid
  6. Di Bawah Bendera Revolusi I -Ir. Soekarno
  7. Filsafat Islam Masa Awal -H. Ibrahim
  8. Perjalanan Mencari Kebenaran -Saleh As Saleh
  9. Tailalat -Pramoedya Ananta
  10. Jang Harus Dibabat dan Harus Dibangun -Pramoedya Ananta
  11. Ulama dan Kekuasaan -Jajat Burhanudin
  12. Arok Dedes -Pramoedya Ananta
  13. Sastra, Sensor, dan Negara -Pramoedya Ananta
  14. Bumi Manusia -Pramoedya Ananta
  15. Maaf Atas Nama Pengalaman -Pramoedya Ananta
  16. Rumah Kaca -Pramoedya Ananta
  17. History and Rhymes of the Lost Battalion -Mc Collum
  18. Nusa Jawa Silang Budaya I -Denys Lombard
  19. Nusa Jawa Silang Budaya II -Denys Lombard
  20. Nusa Jawa Silang Budaya III -Denys Lombard
  21. Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia I -Th. Stevens
  22. Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia II -Th Stevens
  23. Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia III -Th. Stevens
  24. Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia IV -Th. Stevens
  25. Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia V -ThStevens
  26. Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia VI -Th. Stevens
  27. Tarekat Manson Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia -Th. Stevens (Full Version)
  28. Doktrin Zionisme dan Pancasila -Rinaldi
  29. Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia -S.M. Kartosoewirjo
  30. Nusa dan Bangsa Melaju -Ibrahim Yaacob
  31. Sang penguasa -Niccolo Machiavelli
  32. Ratu Adil Kuasa Pemberontakan di Nusantara -Setyo Wibowo
  33. Islam Doktrin dan Peradaban -Nurcholish Madjid
  34. Inteligensia Muslim dan Kuasa -Yudi Latif
  35. Detik-Detik yang Menentukan -B.J. Habibie
  36. Kapitalisme yang Layak -Sebastian Dullien
  37. Brumaire XVIII Louis Bonaparte -Karl Marx
  38. Kapital II -Karl Marx
  39. Kapital III -Karl Marx
  40. Kemiskinan Filsafat -Karl Marx 
  41. Kerja Upah dan Kapital -Karl Marx 
  42. Upah Harga dan Laba -Karl Marx 
  43. Asal Usul Kapitalis Industri -Karl Marx 
  44. Keluarga Suci -Marx & Engels 
  45. Manifesto Partai Komunis -Marx & Engels  
  46. Ludwig Feuerbach dan Akhir Filasafat Klasik Jerman -Frederick Angels
  47. Anti Duhring -Frederick Angels
  48. Masalah Perumahan -Frederick Angels
  49. Perang Tani di Jerman -Frederick Angels
  50. Tentang Das Kapital Marx -Frederick Angels
  51. Dialektika Alam -Frederick Angels
  52. Masalah-Masalah Dasar Marxisme -G. V. Plekhanov
  53. Seni dan Kehidupan Sosial -G. V. Plekhanov
  54. Sosialisme Utopian Abad XIX -G. V. Plekhanov
  55. Kepada Kaum Miskin -V. I. Lenin
  56. Komunisme Sayap Kiri -V. I. Lenin
  57. Materialisme dan Empiriokritisme -V. I. Lenin
  58. Negara dan Revolusi -V. I. Lenin
  59. Sosialisme dan Kaum Tani -V. I. Lenin
  60. Sejarah Nasional Indonesia III -Poesponegoro & Nugroho Notosusanto
  61. The Diary of Dajjal -Noriagaa & Archenar
  62. Dalih Pembunuhan Masal: Gerakan 30 September dan Kudeta Suharto -John Roosa
  63. Sejarah Indonesia Modern -Ricklefs
  64. Awal Kebangkitan Mataram -H.J. De Graaf
  65. Zionisme: Gerakan Menaklukkan Dunia -Z.A. Maulani
  66. Mitos Peribumi Malas: Imej Orang Jawa, Melayu dan Filipina dalam Kapitalisme Penjajah -Hussein Alatas
  67. Membongkar Dosa Pemilu: Pro Kontra Praktik Pemilu Perspektif Syariat Islam -Abu Nashr Muhammad Al-Imam

Rabu, 04 September 2019

Fakta Unik Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang Mungkin Belum Kalian Ketahui

Halo gengs.
Salam Ilmu Sejarah.
Btw, siapa dari kalian yang masih merasa asing dengan kata Proklamasi Kemerdekaan Indonesia? Aku yakin tidak ada. Apa lagi sebagai Warga Negara Indonesia, tentu sudah sangat familiar. Proklamasi kemerdekaan ini menjadi salah satu bagian dari sejarah Indonesia yang sangat penting kedudukannya, karena peristiwa ini merupakan puncak dari perjuangan rakyat Indonesia dalam mencapai kemerdekaan dan terbebas dari belenggu penjajahan. Walaupun setelah itu masih ditemui pertempuran-pertempuran melawan penjajah di beberapa daerah, seperti di Surabaya yang dikenal dengan peristiwa 10 November 1945, setidaknya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia telah menjadi titik awal sebelum Indonesia benar-benar lahir sebagai bangsa dan negara yang merdeka, baik secara de facto maupun secara de jure.

Berbicara mengenai Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, tentu juga tidak lepas dari sebuah Naskah/Teks Proklamasi Indonesia yang dibacakan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta. Nah, ternyata gengs, ada fakta-fakta unik juga seputar Teks Proklamasi Indonesia ini yang mungkin belum kalian ketahui. Mulai dari misteri angka 05, Teks Proklamasi yang dibuang ke tempat sampah, dan lain-lain. Lahh, serius min? Hehe, memangnya mantan kalian doang yang dibuang ke tempat sampah :v. Kuy, langsung saja kita bahas.

Ternyata Teks Proklamasi Ada Dua Macam
Kok bisa min? Faktanya, Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia memang ada dua macam, yaitu Teks Proklamasi yang Klad dan yang Otentik. Teks Proklamasi yang Klad adalah Teks Proklamasi asli yang ditulis tangan langsung oleh bapak proklamator kita Ir. Soekarno. Tidak hanya Ir. Soekarno, perumusan Teks Proklamasi ini juga diikuti oleh Drs. Moh. Hatta, dan Achmad Soebardjo. Perumusan dilaksanakan tanggal 17 Agustus 1945, dini hari sekitar pukul 02.00 sampai pukul 04.00 waktu setempat, di rumah Laksamana Maeda, Jalan Imam Bonjol No. 1, Jakarta.

Konsep Teks Proklamasi yang ditulis langsung oleh Ir. Soekarno ternyata masih terdapat beberapa kesalahan yang perlu diubah sebelum dibacakan. Permintaan Ir. Soekarno kepada semua yang hadir sebagai wakil-wakil bangsa untuk menandatangani Teks Proklamasi saat itupun tidak disetujui dengan alasan sebagian yang hadir ternyata menjadi kolaborator Jepang, sehingga atas usul dari Sukarni, Teks Proklamasi sebaiknya ditandatangani oleh Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta saja. Setelah beberapa perubahan telah disetujui, maka konsep itu kemudian diketik. Teks ketikan inilah yang kemudian disebut sebagai Teks Proklamasi yang Otentik. Teks Proklamasi Otentik ini diketik oleh seorang tokoh muda kelahiran Seleman, 22 November 1908, bernama Mohamad Ibnu Sayuti atau lebih dikenal dengan nama Sayuti Melik.

Berarti Teks Proklamasi yang dibacakan Ir. Soekarno bukan yang Klad dong min? Ya, Teks Proklamasi yang dibacakan Ir. Soekarno ternyata bukanlah yang Klad, melainkan yang Otentik dan sudah diketik serta ditandatangani oleh Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta.

Adapun perubahan dan perbedaan antara Teks Proklamasi yang Klad dan yang Otentik yaitu:
•Kata “Proklamasi” diubah menjadi “PROKLAMASI”
•Kata “Hal2” diubah menjadi “Hal-hal”
•Kata “tempoh” diubah menjadi “tempo”
•Kata “Djakarta, 17-8-‘05” diubah menjadi “Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05”
•Kata “Wakil2 bangsa Indonesia” diubah menjadi “Atas nama bangsa Indonesia”
•Teks Proklamasi Otentik berupa hasil ketikan dan telah ditandatangani oleh Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta, sedangkan Teks Proklamasi Klad berupa tulisan tangan dan tidak ditandatangani.

Untuk mengetahui lebih jelasnya, silahkan amati gambar di bawah ini.

Teks Proklamasi Klad:
Teks Proklamasi Klad
Pict: https://ZonaReferensi.com

Teks Proklamasi Otentik:
Teks Proklamasi Otentik
Pict: https://SulutPos.com

Seperti yang kita ketahui, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia akhirnya dikumandangkan pada waktu itu juga, tanggal 17 Agustus 1945, di Jalan Pegangsaan Timur No 56, Jakarta, sekitar pukul 10.00 waktu setempat.

Arti Angka “05” pada Teks Proklamasi
Memangnya ada angka “05” min? Jika kalian pernah memperhatikan Teks Proklamasi Indonesia, baik yang Klad maupun yang Otentik, di sana tertulis angka “05” sebagai keterangan tahun kapan Teks Proklamasi itu dibuat dan disahkan. Lohh, bukannya Teks Proklamasi Indonesia dibuat tahun 1945 min, kok malah ditulis 05? Hal ini tentunya bukan karena terjadi salah tulis atau salah ketik, melaikan penanggalan yang digunakan Indonesia adalah penanggalan Jepang yang saat itu memasuki tahun 2605. Kok penanggalan Jepang yang dipakai min? Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa pada saat itu sebenarnya Indonesia masih dalam pendudukan Jepang, sehingga penanggalan yang digunakan Indonesia adalah penanggalan Jepang. Jadi, angka “05” pada Teks Proklamasi Indonesia adalah kependekan dari angka tahun 2605 dalam penanggalan Jepang dan setara dengan tahun 1945 dalam kalender Masehi yang umum digunakan sekarang.

Teks Proklamasi Dibuat di Rumah Orang Jepang
Seperti yang sudah disinggung di atas, perumusan Teks Proklamasi dilakukan di rumah Tadashi Maeda, yang tidak lain adalah seorang perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang. Padahal saat itu Indonesia dalam pendudukan Jepang. Tadashi Maeda sendiri bertugas sebagai kepala penghubung angkatan laut dan angkatan darat tentara kekaisaran Jepang.  Tadashi Maeda mempersilahkan tokoh-tokoh penting Indonesia untuk menjadikan rumahnya sebagai tempat perumusan Teks Proklamasi. Tidak hanya itu, ia menjamin keamanan bagi mereka dari ancaman luar. Teks Proklamasi untuk kemerdekaan Indonesia mulai disusun pada dini hari sekitar pukul 02.00 sampai 04.00 waktu setempat yang berada di ruang makan rumah Tadashi Maeda. Kini, rumah Tadashi Maeda telah menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi yang bertempat di Jl. Imam Bonjol, No.1, Jakarta Pusat. 

Teks Proklamasi Sempat Dibuang
Waduh, kok bisa dokumen sepenting itu dibuang min? Faktanya, setelah Teks Proklamasi versi Klad selesai disalin dan diketik menjadi versi Otentik, Teks Proklamasi versi Klad memang sempat dibuang. Beruntungnya, dokumen tersebut berhasil diselamatkan oleh seorang tokoh bernama Burhanuddin Mohammad Diah. Menurut beberapa sumber menyebutkan bahwa Diah memungut Teks Proklamasi versi Klad tersebut dari keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda. Ia kemudian menyimpannya sendiri selama 49 tahun, sebelum akhirnya diserahkan ke pemerintah pada tanggal 29 Mei 1992.

Just for your information gengs. Infonya ternyata mimin juga bisa berbahasa Inggris? :v. Hehe, ya bukan dong. Menurut beberapa sumber, saat ini Teks Proklamasi versi Klad yang merupakan tulisan tangan asli dari Bung Karno disimpan di Arsip Nasional RI (ANRI), tepatnya di Jalan Ampera Raya, Jakarta Selatan. Sayangnya, tidak semua orang diijinkan untuk melihat langsung Teks Proklamasi versi Klad ini, hanya orang-orang tertentu saja. Yahh, terus gimana min? Tenang, pihak ANRI telah menyediakan salinannya yang bisa dilihat oleh masyarakat umum dan wisatawan, tepatnya di Ruang Diorama ANRI. Meskipun hanya salinan, setidaknya rasa haru dan bangga tetap menyelimuti suasana ketika kita bisa melihat langsung dokumen "sakral" dan terpenting dalam sejarah Indonesia ini. Mimin lebay :v. Hehe, tidak juga gengs. Aku yakin setiap orang akan merasakan hal yang sama. Apa lagi aku sebagai mahasiswa Ilmu Sejarah yang hampir setiap hari dijejali seputar sejarah perjuangan rakyat Indonesia, tentu akan merasakan sensasi yang luar biasa ketika aku bisa melihat dokumen paling bersejarah tersebut.

Rekaman Suara Ir. Soekarno Saat Membacakan Teks Proklamasi
Mungkin kalian berpikir bahwa rekaman suara asli Bung Karno saat membacakan Teks Proklamasi yang sering kita dengar adalah rekaman yang direkam saat itu juga, atau saat Teks Proklamasi dikumandangkan tanggal 17 Agustus 1945, sekitar pukul 10.00 waktu setempat. Faktanya, rekaman tersebut ternyata direkam pada tahun 1951 di studio Radio Republik Indonesia (RRI), yang saat ini berlokasi di Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat. Kok bisa min? Alasannya tidak lain adalah karena pada saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan tanggal 17 Agustus 1945, teknologi untuk merekam peristiwa tersebut belum bisa ditemukan secara mudah, sehingga tidak ada satupun yang sempat merekamnya secara langsung pada waktu yang bersamaan. Satu-satunya dokumentasi yang bisa didapatkan saat itu hanyalah sebuah foto.

Foto Ir. Soekarno saat membacakan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. 17 Agustus 1945.
Foto Ir. Soekarno saat membacakan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. 17 Agustus 1945.
Pict: https://ketemulagi.net

Beberapa tahun kemudian tepatnya tahun 1951, Jusuf Ronodipuro selaku pendiri RRI meminta Bung Karno untuk melakukan rekaman suara pembacaan Teks Proklamasi di RRI, karena sebelumnya belum ada dokumentasi dalam bentuk rekaman suara. Setelah menemui kesepakatan, akhirnya Bung Karno berkenan untuk melakukan rekaman, sehingga didapatkanlah dokumentasi rekaman suara Bung Karno membacakan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang sering kita dengar saat ini.


Oke, mungkin hanya itu yang bisa saya share seputar fakta unik Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang mungkin belum kalian ketahui. mudah-mudahan bisa menambah wawasan dan pengetahuan kalian ya gengs :). Blog ini telah berusaha disusun dengan sebaik mungkin, tapi apabila masih terdapat salah kata ataupun salah dalam menyampaikan materi, penulis meminta maaf dan akan selalu terbuka untuk menerima kritikan yang membangun dari kalian gengs :). Untuk saran atau tanya-tanya silahkan komentar di bawah atau hubungi e-mail yang sudah aku sediakan di profil.
Thank you gengs..
Salam Ilmu Sejarah…

Senin, 02 September 2019

Sejarah Sebagai Ilmu dan Sejarah Sebagai Karya Sastra

Halo gengs.
Salam Ilmu Sejarah.
Hehe. Ini post pertama aku, ciyee :v. Kenapa blog ini aku namai JASMERAH? Tentu kalian semua sudah tidak asing lagi dengan istilah itu. Ya, JASMERAH adalah singkatan dari “Jangan Sekali-Kali Meninggalkan Sejarah.” Berarti blog ini akan banyak membahas seputar sejarah dong min? Ya iya lah, masa mau bahas teman kalian yang datang kalau lagi butuh doang hehe, gibah dong :v. Duhh, mimin curhat apa basa-basi? Btw, postingan ini sekedar pengantar dulu ya, sebelum kita membahas lebih jauh lagi mengenai sejarah :).

Kenalan Dulu Dong.
Oke, tak kenal maka tak tahu namanya. Nama aku Muhammad Wafiq Saiful Rijal Abrori. Itu nama apa kereta api min, panjang banget? Hehe, ga tau lah, orang tuaku yang memberiku nama itu. Aku kan ga bisa request waktu baru lahir. Sampai-sampai ketika aku ujian sekolah selalu mengalami kesulitan saat pengisian borang nama lengkap di lembar jawaban :v.

Saat ini aku kuliah di Universitas Jember, mengambil Program Studi Ilmu Sejarah. Baru semester 3 sih, hehe. Itulah alasan aku membuat blog ini, tidak lain untuk berbagi pengalaman ataupun pengetehuan mengenai sejarah, baik sejarah di Indonesia atau di luar Indonesia. Selain itu juga ada kutipan luar biasa yang memotivasi aku, yaitu apa yang disampaikan Pramoedya Ananta:

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Untuk info data diri aku yang lain, di profil ada kok gengs, hehe.

Sejarah Itu Apa Sih?
Secara etimologi, kata sejarah berasal dari bahasa Arab, “Syajarah” (Syajaratun) yang artinya adalah pohon. Di Indonesia dapat diartikan sebagai silsilah, riwayat, dan jika dijadikan skema akan menyerupai pohon lengkap dengan cabang, ranting, dan daun.

silsilah, riwayat, dan jika dijadikan skema akan menyerupai pohon lengkap dengan cabang, ranting, dan daun.
Pict: https://www.researchgate.net

Adapun pengertian sejarah menurut para ahli seperti,

•Muh. Yamin: ilmu pengetahuan yang disusun atas hasil penyelidikan beberpa peristiwa yang dapat dibuktikan dengan bahan kenyataan.

•Kuntowijoyo: sejarah adalah hal-hal yang menyuguhkan fakta secara diakrononis, ideografis, unik, dan empiris. Sejarah bersifat diakronis karena berhubungan dengan waktu. Sejarah bersifat ideografis karena menggambarkan dan menceritakan sesuau. Sejarah bersifat unik karena berisi hasil penelitian tentang hal yang terjadi hanya sekali dan tidak akan pernah terulang lagi. Sejarah bersifat empiris karena bersandar pada pengalaman manusia yang sungguh-sungguh.

Sedangkan pengertian sejarah secara umum adalah suatu peristiwa atau kejadian yang telah terjadi pada masa lalu.

Berarti cerita Malin Kundang ataupun Sangkuriang juga sejarah dong min? Buktinya ada Patung Malin Kundang dan Gunung Tangkuban Perahu? Ya, tapi hanya sebatas sejarah sebagai karya sastra, bukan sejarah sebagai ilmu. Maksudnya min? Oke, mari lanjut pembahasannya, hehe.

Sejarah Sebagai Karya Sastra dan Sejarah Sebagai Ilmu.
•Sejarah sebagai karya sastra adalah karya sastra yang selain mengandung unsur sastra, juga mengandung unsur sejarah, keindahan (estetika), dan unsur khayalan. Realitas yang menjadi obyek karya sastra sejarah merupakan peristiwa sejarah, maka karya sastra sejarah mencoba menerjemahkan dalam bahasa imanjiner dengan maksud untuk memahami peristiwa sejarah menurut kadar kemampuan pengarang. Karya sastra sejarah dapat menjadi sarana bagi pengarang untuk menyampaikan pikiran, perasaan dan tanggapan. Naskah suatu karya sastra sejarah tidak dapat digunakan sebagai sumber sejarah yang bisa dipercaya begitu saja, karena banyak mengandung unsur mitos, legenda, ataupun dongeng.

Itulah mengapa cerita Malin Kundang dan Sangkuriang bukan termasuk karya sejarah sebagai ilmu, meskipun sama-sama menceritakan kejadian pada masa lalu, namun dalam cerita tersebut banyak mengandung kejadian-kejadian di luar nalar manusia. Contoh lain adalah Legenda Candi Sewu, dikisahkan bahwa Candi Sewu dibangun oleh Raden Bandung Bandawasa dengan bantuan makhluk halus. Perisiwa seperi itu tidak dapat diterima nalar atau logika, sehingga tidak sesuai dengan krieria keilmuan yang logis, objektif, metodik, sistematik, berlaku umum dan universal, serta kumulatif berkembang dan tentatif. Tidak hanya itu, mitos, legenda, dan dongeng biasanya tidak diketahui secara jelas kapan peristiwa itu terjadi.

•Sejarah Sebagai Ilmu adalah peristiwa masa lampau yang disusun secara sistematis menggunakan metode kajian ilmiah. Kenapa harus ilmiah min? Ya, namanya aja Ilmu Sejarah, hehe. Hal itu tentu karena Ilmu Sejarah ini nantinya akan berpengaruh pada perkembangan ilmu pengetahuan di masa-masa yang akan datang, maka sangat perlu untuk mendapatkan kebenarannya.

Sebagai ilmu, sejarah merupakan ilmu yang memiliki fungsi besar dalam meneliti dan menyelidiki kejadian-kejadian apa saja yang dialami oleh manusia serta masyarakat pada masa lampau. Dalam melakukan penelitian sejarah, penguasaan metode (prosedur) ilmiah sangat diperlukan, tidak bisa asal melakukan penelitian sejarah begitu saja. Seperti yang disampaikan di atas, ini karena semua yang ditemukan nantinya akan menjadi sebuah ilmu yang menentukan kondisi pada masa-masa selanjutnya.

Lalu apa saja metode yang dimaksud agar sejarah bisa disebut sebagai ilmu min? Metode (prosedur) ilmiah dalam Ilmu Sejarah dikenal dengan sebutan Metodologi Sejarah/Metode Sejarah. 

Berikut ini adalah tahapan-tahapannya:
•Heuristik: tahap mengumpulkan sumber
•Kritik Sumber: menyeleksi sumber untuk memperoleh data yang valid
•Interpretasi: Penafsiran terhadap sumber
•Historiografi: tahap penulisan

Adapun pendapat dari Kuntowijoyo dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah, menambahkan Metodologi Sejarah menjadi lima tahapan, yaitu yang paling pertama adalah Pemilihan Topik. Menurutnya, pemilihan topik hendaknya berdarsarkan pada kedekatan emosional dan kedekatan intelektual. Kedekatan emosional maksudnya adalah bahwa topik yang kita pilih adalah topik yang kita senangi, sedangkan kedekatan intelektual adalah kemampuan kita dalam menguasai topik yang kita pilih tersebut.

Nah, gimana? Sudah ada pemahaman tentang apa itu sejarah sebagai ilmu dan karya sastra? Hehe..

Oke, mungkin cukup sampai di sini dulu pembahasannya gengs. Blog ini telah berusaha disusun dengan sebaik mungkin, tapi apabila masih terdapat salah kata ataupun salah dalam menyampaikan materi, penulis selalu terbuka untuk menerima kritikan yang membangun dari kalian gengs :). Silahkan komentar di bawah atau hubungi e-mail yang sudah aku sediakan di profil. Oke?
Thanks..
Salam Ilmu Sejarah…