Sejarah Pedesaan
Jika sejarah kota sangat bertampalan dengan studi perkotaan kontemporer seperti geografi perkotaan atau pengembangan wilayah, maka pun sama juga keadaannya dengan sejarah pedesaan yang berdiri sama tingginya dengan rural sociology. Bahkan jika kita menilik beberapa abad lalu keadaan Nusantara hampir seluruhnya kecuali Batavia masih berupa desa. Satu pertanyaan yang diajukan dalam pengantar bab ini yaitu “jika dahulu Nusantara masih seluruhnya berbentuk desa, seluruh sejarah tentu terjadi didalam desa, maka masih perlukah membuat satu jenis penulisan lagi dalam ilmu sejarah?”. Oleh karena itu Kuntowijoyo sebagai ahli sejarah memberikan penjelasan-penjelasan yang berusaha keras untuk mengabsahkan kedudukan sejarah pedesaan dalam penulisan ilmu sejarah. Dalam usaha tersebut Kuntowijoyo memberikan batasan satuan-satuan penelitian dalam sejarah pedesaan, ada empat satuan yang dijelaskan.
Pertama, satuan ekosistem, ekosistem seperti yang kita ketahui bersama adalah interaksi antara manusia dengan alam. Dalam hal ini dicontohkan adanya perbedaan interaksi antara jenis perladangan yang dominan di wilayah tersebut. Interaksi dengan ekosistem sagu (Papua), tegalan (Madura), persawahan (Jawa) tentu akan menghasilkan proses dan hasil yang berbeda. Utamanya pada masyarakat pengelolanya tersebut, jika ekosistem sagu biasanya dikelola oleh ikatan keluarga besar sedangkan dalam pengelolaan sawah lebih kepada ikatan desa yang multietnis. Hal-hal tersebut yang dapat dijelaskan pada poin pertama.
Kedua, satuan geografis. Dapat dijelaskan pada poin ini adalah hubungan masyarakat antar satuan geografis, misalnya interaksi masyarakat yang berada di pesisir dengan masyarakat berada di daerah yang lebih tinggi, begitupula antara daerah tandus dengan daerah lembah lainnya. Hubungan yang dapat dijelaskan antara lain sosial, demografi, dan ekonomi. Kedua satuan geografis, bisa dikatakan ini kajian yang mengikutsertakan keruangan dalam analisisnya dan kajian-kajian perubahannya, contohnya adalah kondisi sosial di daerah pedesaan di pesisir timur Jawa Timur yang mana terjadi percampuran budaya masyarakat antara adat Madura dan adat Osing di Jawa Timur. Ketiga, satuan ekonomi, ada definisi satuan-satuan sebelumnya yang masuk dalam satuan ekonomi. Secara garis besar, satuan ekonomi yaitu pencukupan kebutuhan diri dalam suatu pedesaan misalnya dengan hari-hari pasar (mancapat dan mancalima) dan kemudian diganti dengan pasar permanen. Serta yang terakhir adalah satuan budaya, satuan ini yang paling akrab bagi kita yaitu bagaimana pedesaan dianalisis dari budaya atau adat yang digunakan di wilayah tersebut, analisis disekitaran pembahasan transformasi kultural.
Bab ini juga menjelaskan tentang permasalahan desa-desa sebagai sebuah satuan sosial, teritorial, dan administratif. Dari contoh-contoh yang diberikan sudut pandang dalam mendefiniskan apa itu desa memang porsinya sangat dominan di daerah pulau Jawa, tentu didaerah lainnya fenomena yang berbeda sangat mungkin terjadi. Penggalian lewat masalah-masalah seperti sistem pemerintahan desa, pasar desa, lembaga keagamaan, sistem sosial desa belum tergarap secara baik (sampai buku ini diterbitkan).
Sejarah Ekonomi Pedesaan
Sejarah ekonomi masih merupakan daerah yang relatif asing bagi sejarawan Indonesia, sekalipun sejarah ekonomi diajarkan di jurusan-jurusan sejarah. Di negeri-negeri barat sendiri sejarah ekonomi juga merupakan disiplin yang relative baru. Meskipun sejarah ekonomi sudah ditulis orang jauh sebelumnya, tetapi chair untuk sejarah ekonomi yang pertama di dunia baru ada di Harvard pada tahun 1892, dan chair serupa di Inggris baru ada pada tahun 1910. Sejarah ekonomi yang secara formal berdiri sendri lepas dari subordinasi pada sejarah politik itu ingin mencari maknanya sendiri dalam mempelajari corak dan penjumlahan dari hubungan manusia yang bersifat ekonomi, sosial dan budaya. Pada kurun-kurun sebelumnya political economy lebih berpengaruh dalam penulisan-penulisan sejarah ekonomi. Sejarah ekonomi yang telah melepaskan diri dari ekonomi politik terus berkembang dan mencapai puncaknya dalam studi yang semakin canggih, dengan penggunaan metode qtguatitalis yang maju dalam gerakan the new economic history.
Ekonomi pedesaan dan ekonomi petani tidak selalu searti, namun dalam tulisan ini, keduanya dipersamakan dan dapat dilakukan peristilahannya khusus untuk keperluan seminar sejarah lokal dengan cakupan dinamika pedesaan ini. Ciri-ciri ekonomi petani sebagaimana dikemukan Daniel thornier, seorang antropolog yang menganggap ekonomi petani sebagai sebuah kategori dalam sejarah ekonomi, ialah:
1.Dalam bidang produksi, masyarakat terlibat dalam produksi agrarian;
2.Penduduknya harus lebih dari separuhnya terlihat dalam pertanian;
3.Ada kekuasaan negara dan lapisan penguasaanya;
4.Ada pemisahan antara desa dengan kota, jadi ada kota-kota dengan latar belakang desa-desa;
5.Satuan produksinya ialah keluarga rumah-rumah petani.
Ekonomi petani, menurut Thornier yang mengukuhkan pendapat ahli ekonomi Rusia. Charanov, tidak termasuk dalam salah satu kateogri sudah ada, hingga sepantasnya kalau ekonomi petani yang banyak terdapat di negara-negera yang sedang berkembang itu mendapat tempat-tempat yang tersendiri. Ia juga tidak puas dengan semata-mata menyebut ekonomi petani sebagai perwujudan cara produksi Asia.
Pertemuan antara ekonomi ekspor, baik melalui peraturan tanam paksa maupun perkebunan swasta pada abad ke-19, merupakan pertemauan antara dua cara produksi dengan akibat-akibat yang menarik perhatian sejarah ekonomi. Tidak kurang dari itu sebenarnya ialah pertemuan antara dua system ekonomi sebagai dikemukakan oleh Boeke sejak lama, yang sampai sekarang pun masih berlaku dalam pengertian-pengerian tertentu.
Sejarah ekonomi lokal sangat penting karena tiap-tiap daerah di Indonesia menempuh jalan sendiri-sendiri dalam perkembangan ekonomi. Perbedaan regional itu disebabkan oleh berbagai faktor pertama, ada atau tidak adanya organisasi kenegaraan. Dalam hal ini perbedaan terjadi antara berbagai daerah yang disebabkan oleh corak kerajaan-kerajaan atau organisasi sosial setempat yang berbeda. Pembatasan satuan wilayah dapat mempergunakan berbagai cara. Di antara kemungkinan itu ialah pendekatan wilayah produksi, wilayah pemasaran, wilayah penukaran, wilayah georgrafis, wilayah administratif dan wilayah adat.
Wilayah produksi dapat berupa daerah yang diliputi oleh produksi sejenis, seperti misalnya daerah nelayan dipantai utara Jawa, Sumatera Timur, dan sebagainya Madura yang menghasilkan garam sebagai satuan wilayah produksi. Dekat hubungan dengan wilyah produksi pemasaran. Di masa lalu, dapat dibayangkan, teknologi transportasi yang berbeda. Lingkaran pemasaran yang dengan lingkaran kereta api dan truk.
Selanjutnya, sangat penting dalam sejarah ialah satuan waktu dalam sejarah ekonomi, terutama yang mementingkan soal pertumbuhan ekonomi, masalah tahapan perkembangan selalu menjadi perhatian yang utama. Tidak saja dalam skala makro kita dapat berbicara tentang system ekonomi atau cara produksi, tetapi juga dalam lingkup mikro.
Untuk penelitian sejarah, pendekatatn terhadap tahapan ekonomi tidak perlu harus menggunakan ukuran-ukuran ekonomi. Tahapan pertumbuhan ekonomi sebagaimana dikemukakan oleh Rostow dalam the stages of economi growth yang menggunakan ukuran produksivitas sebagai kriteria untuk tahapan, kiranya hanya dapat berlaku bagi masyarakat industrial, dan sedikit saja relevansinya dengan system ekonomi pedesaan atau petani di masa lampau. Dalam pendekatan Rostow, secara kasar masyarakat tradisional hanya disebutnya sebagai masyarakat tradsisonal, yang sedikit saja menjelaskan kompleksitas ekonomi yang dibuat oleh Heilbroner lebih menjangkau masa lalu sejarah manusia. Di kemukakannya tiga system ekonomi, ekonomi berdasarkan tradisi, perintah dan pasar.
Setelah kita mendapatkan satuan wilayah dan satuan waktu, kita perlu juga memahami satuan permsalahan dalam sejarah ekonomi pedesaan. Permasalahan ekonomi pedesaan atau eknomi petani tentu tidak sama dengan ekonomi industrial atau ekonomi kota. Dalam pengertian kita disini, ekonomi pedesaan memasukan juga ekonomi primitif sekaligus ekonomi petani, yang kedua-duanya masih terdapat dalam masyarakat dengan kerangka ekonomi pasar sekarang ini. Beberapa kemungkinan permasalahan yaitu tentang faktor-faktor ekonomi, sektor-sektor ekonomi, lembaga-lembaga ekonomi, komoditi, pertumbuhan, dan problem-problem.
Kenyataannya sejarah ekonomi lebih banyak memerlukan penggunaaan teori, model dan konsep-konsep ilmu sosial, termasuk ilmu ekonomi sendiri. Model tentang pertumbuhan ekonomi, misalnya, akan mampu menerangkan peristiwa dan struktur secara jelas. Teori, model dan konsep itu dapat diambil dari ilmu ekonomi konvensional yang terutama sangat baik untuk menganalisa sektor komersial dari organisasi ekonomi petani. Juga ilmu ekonomi konvensional dapat berguna dalam menghitung penampilan ekonomi baik yang primitif, petani, industri kapitalis, maupun industri komunis.
Bagi mereka yang melihat teori ekonomi murni dan statistik merupakan daerah terlarang, seperti sejarawan yang dihasilkan oleh fakultas-fakultas Sastra di Indonesia, sejarah ekonomi masih tetap terbuka. Seperti sudah disinggung, aktivitas ekonomi masih tetap merupakan aktivitas manusia, sehingga sejarah ekonomi pun tidak lepas dari setting sosial dari pengalaman manusia dan imajinasi manusia. Disini motif, nilai, dan sikap masih merupakan hal yang penting. Sejarah ekonomi dapat diletakan dalam kerangka sejarah interdisipliner.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan berkomentar dengan bijak dan santun ya gengs. Penggunaan link aktif akan terhapus secara otomatis.